dilema

menjadi seorang pemimpin tidak lah mudah, mau itu raja, presiden, gubernur, bupati, ketua organisasi, dan lain sebagainya, mereka memegang tanggungjawab penuh terhadap bawahannya, meskipun pemimpin tidak bekerja sendiri dan mempunyai staf ahli, tapi masih saja tanggung jawab penuh di tangan pemimpin, jadi pemimpin keluarga aja kadang-kadang masih kesulitan apa lagi mau ngurusin yang lebih besar dari itu. sama halnya di asrama, dilema untuk mengurus sekitar empat puluh lebih kepala yang memiliki pemikiran yang berbeda-beda dan lebih cerdas dari ku, terkadang aku merasa mereka salah memilih orang, tapi apa boleh dikata nasi talah menjadi bubur, dan tugas ini akan ku jalani bersama kesepuluh teman sepengurus. emang terkadang setiap warga yang sering membuat kesalahan selalu bikin makan hati, di tegur malah berujung garing. yang dulunya hangat sekarang jadi dingin, serba salah. lain lagi dengan pengurus yang masih belum mengerjakan program kerja padahal mereka hanya santai-santai doang, di tegur ujung-ujungnya saling serba salah, owalaahhhh.. pye iki..?
mungkin aku belum cukup siap dan dewasa dalam masalah ini, yang seharusnya ini sebagai wadah untuk belajar sebagai pemimpin tapi belum bisa di manfaatkan sebaik-baiknya, satidaknya harus tegar karena masih orang di belakangku yang terus mendukung dan membuatku semangat untuk menjalankan tugas ku sebagai tiiiitttt.... hehehe,,

ngamalkan

Di asrama lagi hebohnya kata "mengamalkan" maksudnya mengamalkan ilmu bathin atau ilmu ghaib, awalnya sih gara-gara ada alumni asrama yang sering datang ke asrama dengan tingkah dan kelakuannya yang sedikit aneh, orangnya tidak terlalu tinggi dan badannya berisi, rambut tipis tapi agak gondrong sampe leher, kalo sepintas wajahnya gak seram-seram amat, tapi tingkahnya yang buat anak-anak jadi bingung, kadang lucu, kadang takut, bahkan kadang kasihan. Siapa gak takut coba kalo lihat orang duduk sendiri sambil komat kamit dan ngomong gak jelas, bau minyak wanginya juga menyengat dan menyebar kemana-mana. emang kadang lucu juga melihat tingkahnya yang bergaya layaknya seorang yang menybarkan wahyu Tuhan, setiap menghampiri kita yang lagi ngumpul mulai deh ngeluarkan kata-kata yang menyangkut hal agama, lebih jelasnya mirip bacaan bergaya sastra terjemanhan Al-qur'an.
Lama-kelamaan karena udah ngerti dengan keadaannya yang seperti itu pernah terselip rasa kasian padanya, siapa sangka coba kalo dia dulunya pernah memenejeri sebuah grup band terkenal dan akrab dengan artis-artis besar, sebelum dia berubah seperti sekarang ini gayanya selalu mecing, beda banget, trennya ikut gaya jaman. malah bangga kalo alumni asrama punya prestasi seperti dia, sering kasi masukan yang positif dan berbagi pengalaman, facebooknya aja penuh foto-foto bareng artis dan teman-temannya yang udah berhasil di bidang musik, kalo sekarang boro-boro mo dengerin ceramahnya, ngomong aja kadang temen-temen sering bingung dengan kata-kata yang di sampaikannya.
Dia emang tidak separah yang di bayangkan, dia masih sering bergaul dan olah raga bareng, main futsall, voli, dll. sebenarnya yang menjadi tanda tanya besar adalah apa yang ingin dia capai dari perbuatannya itu dan mengapa begitu cepat berubah setelah tenar dan bahkan telah jadi orang besar dan meninggalkan pekerjaannya sebagai menejer, pernah dia bilang dia bakal balik lagi setelah habis masa vakum dalam artian berhenti sejenak dan akan kembali lagi seperti dulu. moga aja dia lekas sembuh dan kembali menikmati prestasi gemilangnya yang telah tenggelam.
Sejak kejadian itu tingkah teman-teman yang sedikit aneh dipandang mata sering di bilang anak buah nya, sebuah ejekan konyol buat tingkah mereka yang kelihatan aneh, salah dikit di sangka "ngamalkan",  galau dikit "ngamalkan" hehehe, ada-ada aja tingkah di asrama. masih banyak lagi cerita selanjutnya yang masih tersimpan dan belum di abadikan di blog ini. besok cerita lain lagi.

Pages